Darimana aku harus memulai cerita
tentang cinta?
Ketika aku merasakan anehnya
denyutan didada kiriku setiap kali mataku menemukanmu? Atau ketika terucap
ejaan cinta dari mulutmu untukku?
Aku hanya tak
memahami darimana cinta muncul dan selalu meracuni otakku dengan keindahan-keindahan
yang ditawarkannya. Iya, aku mengakui bahwa aku bahagia. Bahagia dengan kata
cinta yang menggerogoti seluruh logikaku. Cinta begitu
indah dikisahkan hingga tak ada kecacatan yang terlihat. Dia bagaikan malaikat
yang selalu sempurna dan suci.Dan aku masih saja
tak mengerti.
Kata mereka,
sekarang bukanlah masalah ketika cinta antara 2 insan yang tak berada dalam
satu payung. Mungkin dahulu ketika semuanya belum seperti sekarang, insan-insan
yang siap bercinta harus menuruti apa kata para tetua. Bahkan untuk mengaitkan
emas di jari manispun juga dalam kuasa mereka. Kini semuanya yang serba tak ada
masa lalu, semuanya yang baru, yang tak terbatas, kenapa masa lalu itu masih
saja berlaku?
Katanya sudah
sama saja. Katanya sudah adil. Katanya sudah era globalisasi. Tapi apa? Masih ada mereka
yang lain memilih untuk tetap mencari aman dengan sedikit membenci orang diluar
lingkaran mereka.
Aku masih tak
mengerti.
Kenapa dan
kenapa? Katanya jodoh itu kuasa Tuhan. Katanya cinta itu bukan wewenang manusia
untuk menentukannya. Lalu bagaimana
dengan semua yang terjadi tepat di depan mataku? Apakah aku
sebenarnya sedang berada di masa lalu? Kenapa cinta
tidak lagi bisa menjadi satu-satunya alasan untuk mengikrarkan janji di depan
Tuhan? Kenapa hanya
mereka yang terpilih dan mendapat anggukan dari para tetua mereka masing-masing
yang berhak membuat keindahan baru dalam hidup mereka? Berjalan dengan
gaun yang indah, tersenyum satu sama lain lalu bergandengan tangan untuk
menjemput kebahagiaan selanjutnya. Lalu kami yang
masih percaya bahwa cinta akan menghilangkan rintangan-rintangan, akan
dikemanakan?
Salahkah untuk
percaya bahwa asumsi masa lalu dan sekarang itu sudah berbeda? Kenapa takdir
dimana kelahiran terjadi membuat seakan-akan sebuah jarak yang lebar diantara
semua kelahiran yang ada? Kenapa?
Seakan-akan kita
semua lahir untuk saling membenci. Saling menghargai hanya sebagai topeng untuk
menaikkan sudut pandang orang yang berada di lingkaran lain saat melihat
lingkaranmu. Kita semua gila akan popularitas !
Harus bagaimana
aku sekarang?
Bagaimana
mematikkan api yang sudah membesar dan melambung begitu tinggi?
Butuh banyak
waktu untuk menerima apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Terlalu banyak
penyangkalan yang perasaan lakukan kepada logika. Ketika logika menolak,
perasaan selalu punya alasan untuk mempertimbangkan. Perasaan akan selalu
membuat pilihan itu kembali dan tak akan pernah ada jawaban pastinya. Semuanya
hanya dalam sebuah kata bimbang yang mengambang. Ketika perasaan terus menekan
masuk, logika akan terus mendorong keluar.
Aku tidak peduli
lagi seberapa besar penyangkalan yang selalu hadir dalam benakku untuk terus
berperang dengan logika. Aku menghargai
logika. Aku menyetujui apa yang dia katakan. Aku menghargai
perasaan. Aku mengikuti arusnya yang selalu membuatku senang. Tapi aku marah.
Bukan kepada Tuhan tapi kepada diriku. Tuhan mempertemukan kita tak selalu
berarti jodoh. Tapi kenapa diriku begitu bodohnya menganggap semua ini adalah
jodoh?
Aku hanya tak
ingin menyerah untuk cinta saat ini. Masih ingin berjalan disisimu walau sesungguhnya
aku tak yakin akan berapa lama itu akan bertahan. Aku tahu, akan ada mereka
yang akan mendorongku untuk pergi. Mereka akan memaksaku untuk tak lagi berada
dalam hidupmu. Aku percaya mereka akan melakukan banyak kejahatan padaku.
Sejujurnya aku
takut. Aku takut kita tidak akan bisa berbuat apapun selain diam dan menurut.
Aku ingin berontak, tapi sepertinya kamu tidak bisa melakukannya bersamaku.
Apalah artinya pemberontakan di satu pihak sementara pihak yang lain tak
melakukan apa-apa?
Keragu-raguan
terus menggelayuti diriku. Setiap detik.
Setiap aku
bernafas, rasanya aku ingin menangis. Mengadu pada Tuhan di setiap sujudku, kenapa
semua ini bisa terjadi? Tuhan, apa yang bisa aku lakukan?Aku hanya tak
ingin menyerah. Itu saja, Tuhan.Salahkan aku
percaya pada satu jodoh yang engkau berikan padaku? Salahkah aku
menebak-nebaknya? Salahkah aku, Tuhan?
Aku hanya ingin
bertahan dan terus mencintaimu. Sesederhana itu saja.
Salahkah?
Salahkah?





















