Apa hal pertama yang terbesit ketika mendengar Malioboro Street?
Apa kesan pertama yang terpikirkan ketika melihat monumen Tugu?
Apa yang mengingatkan jika membicarakan tentang Parangtritis Beach?
Jogja ... Yaa dialah pokok dari segala masalah ini.
Kota paling istimewa di Indonesia. Entah apa yang membuatnya Istimewa dari kota-kota lain. Tapi harus ku akui Jogja membosankan jika kalian sudah tau seluk beluknya. Kota yang terkepung oleh jalanan melingkar bernama Ring Road, pinggiran kotanya bahkan masih tergolong Kota tua dengan bongkahan bongkahan bangunan tuanya. Terasa klenik? Iyaa.
Kemacetan dimana-mana sehingga kita harus memutar otak mencari jalan alternatif agar tak terjebak macet. Hawanya juga cukup untuk membakar kita hidup hidup jika kita memaksa untuk nekat. Setiap tahun banyak orang yang datang dan mengaku sebagai perantau. Mereka datang dengan tujuannya masing-masing. Tapi jelas, pemikiran mereka sama. Kenapa harus Jogja? Karena Jogja Istimewa.
Aku sudah menetap di Jogja selama setahun sebagai mereka para perantau. Melanjutkan studi S1 ku di sebuah kampus di pinggiran kota. UGM? Bukan. UGM memang termasuk kampus pinggiran kota, tapi UGM belum saatnya menerimaku sebagai bagian dari keluarga besarnya. Apa mau di kata jika memang takdir dan usaha berbanding terbalik.
Sebagai mahasiswi baru yang masih dengan gayanya sok sok kece karena sudah keluar dari lingkaran berseragam, menelusuri Jogja itu adalah kewajiban yang sepadan dengan masuk kuliah setiap hari. Tak ada waktu yang terbuang sia-sia untuk sekedar berkeliling Jogja atau duduk duduk cantik di kafe-kafe yang hampir di setiap jalan pasti ada. Mulai dari kedai susu yang terkenal di dekat UGM " Kali Milk " dengan harganya yang cukup menjulang sampai kedai-kedai susu eceran yang harganya merakyat. Kafe 24 jam yang cocok untuk begadang seperti " Semesta " atau tetangganya, " Legend " di daerah Kotabaru. Dan masih banyak tempat yang begitu populer di Jogja yang masuk daftar wajib untuk di kunjungi baik dengan kantong tebal atau tipis.
Tapi setahun penuh disini sudah cukup menyenangkan. Aku bertemu orang-orang baru dan yang paling menyenangkannya lagi aku bisa berkenalan dengan mereka-mereka yang datang dari luar jawa dengan membawa budaya mereka masing-masing. Mereka datang dari Sabang sampai Merauke tanpa terkecuali. Di sini seperti miniatur Indonesia. Mereka dengan budayanya tentu membuatku geli untuk sekedar kepo mempelajari bahasa atau bahkan berselisih paham menyebut sebuah istilah yang sama namun berbeda pengertian. Ini mengasyikkan. Aku suka. Mungkin ini pula yang membuat Jogja menjadi terasa istimewa karena Jogja itu berbeda.
Dan di sini pula aku menemukan cintaku. Terlalu dini untuk membahasnya terlalu jauh karena kami belum menginjak pada jenjang lebih serius. Tapi rasanya aku bersyukur bisa menemukannya dari milyaran manusia di Jogja ini. Dulu, dulu sekali aku pernah berkata pada teman-teman sekolahku aku akan menemukan cintaku di Jogja. Kota impianku sejak kecil. Walaupun aku sudah pernah menemukan ' orang jogja ' sebagai sosok yang ku pikir bisa mendampingiku dan ternyata aku salah memilihnya. Sempat takut memulai cerita kembali? Iya, tentu. Ada rasa ketakutan dalam diriku mengulangi kesalahan yang sama. Rasa sakit itu terlalu menyakitkan hingga sampai detik sebelum aku menemukannya, perih itu masih saja menyiksa. Tapi kemudian dia datang dengan caranya untuk mendekatiku. Membuatku merasa nyaman terlebih dahulu dengan gayanya. Lalu membuat sebuah kepercayaan yang pada akhirnya membuatku berani memutuskan untuk mencoba memulai kisah baru dengannya. Aku menerimanya apa adanya. Apa adanya yang dia punya dan kekurangannya. Dia mampu bersabar menghadapiku. Menjadi air ketika aku menjadi api. Itulah mengapa saat ini aku berusaha untuk terus bersamanya. Aku tak mau kehilangan sosok yang sempurna -bagiku- demi sosok yang entah kelak seperti apa lagi. Yang belum tentu bisa mengerti aku sejauh yang dia bisa lakukan saat ini. Dia jarang marah, bahkan tidak pernah. Aku nyaman ketika berdiri di sisinya. Nyaman sekali.
Ini alasan mengapa Jogja begitu istimewa bagiku. Akhirnya aku menemukannya. Itulah kenapa Jogja selalu membuatku rindu ketika ditinggalkan. Entah rasa apa yang bergejolak didada ini hingga ingin rasanya cepat-cepat kembali menginjak tanah Jogja.
Tempat terindah sepanjang masa. Tempat yang indah untuk Jatuh Cinta.
Jogjaa, I'm in Love !


0 Note:
Posting Komentar