Selasa, 24 November 2015

KAJIAN DEMOKRASI DAN HAM

Diposting oleh Novela Dinar Puspitasari di 06.33 0 Note
KELOMPOK MINORITAS DI INDONESIA
PERKEMBANGAN LGBT DI INDONESIA
Novela Dinar Puspitasari 20130510266 - B
Ilmu Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
2015

ABSTRAK
Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman budaya dan masyarakat. Keanekaragaman ini yang kemudian membentuk kelompok-kelompok tertentu, seperti kelompok berdasarkan suku, agama, budaya dan kepentingan lainnya. Kelompok-kelompok ini bergerak dalam konteks masing-masing yang kemudian memunculkan beberapa kelompok yang lebih dominan, biasa disebut dengan mayoritas. Diantara kelompok mayoritas tersebut, mereka cenderung banyak menguasai sektor-sektor utama di masyarakat sehingga hal ini kemudian yang memicu terbentuknya kelompok minoritas. Kelompok minoritas sendiri ialah kelompok yang tersisihkan dalam ruang sosial dikarenakan perbedaan yang mereka miliki atau jumlah orang yang tergabung didalamnya sangat sedikit. Sehingga kelompok minoritas ini kemudian menjadi pihak yang tersisihkan di lingkungan masyarakat. Hal ini yang kemudian mendorong beberapa kelompok minoritas mendesak pemerintah untuk melindungi hak-hak mereka agar sama seperti halnya kelompok mayoritas. Salah satu kelompok minoritas di Indonesia adalah kelompok LGBT atau kepanjangannya adalah Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender. Istilah LGBT ini dibuat oleh Amerika untuk mereka yang memiliki ketertarikan pada sesama jenis (homoseksual). Faktor dari LGBT ini masih menjadi perdebatan, namun sebagian orang meyakini karena faktor lingkungan. LGBT berkembang di Indonesia sangat pesat melalui arus liberalisme yang semakin gencar pada era globalisasi ini. LGBT di Indonesia tergolong cukup banyak, bahkan kelompok ini memiliki perkumpulan khusus yang menaungi hak-hak kaum LGBT seperti GAYa Nusantara dan Arus Pelangi. Di Indonesia, LGBT belum mendapat perlakuan legal untuk masalah kegiatan dan pernikahannya seperti halnya di Amerika. Menurut mayoritas masyarakat Indonesia, LGBT adalah salah satu bentuk penyimpangan sosial yang tidak sesuai dengan norma-norma kehidupan yang sudah mereka yakini. Sehingga LGBT ini masih sangat tabu untuk diperbincangkan di masyarakat luas.

Senin, 29 Juni 2015

POLITIK GLOBAL AMERIKA SERIKAT

Diposting oleh Novela Dinar Puspitasari di 04.59 0 Note
DINAMIKA HUBUNGAN
AMERIKA SERIKAT DAN KUBA

Tugas Akhir Mata Kuliah Politik Global Amerika Serikat

Dosen / Asdos :
Prof. Dr. Bambang Cipto, M.A / Idham Badruzaman, S.IP., M.A

Disusun Oleh
NOVELA DINAR PUSPITASARI
20130510266
(C)

HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Awal Hubungan Amerika Serikat dan Kuba  
          Kawasan Amerika Latin dianggap sangat penting bagi Amerika Serikat karena menjadi kawasan yang paling dekat dengan Amerika Serikat berada pada kawasan Benua Amerika. Bagi Amerika Serikat, wilayah Amerika Latin penting karena menjadi garis pertahanan, terutama untuk menanggulangi pengaruh komunis. Salah satu negara penting di kawasan Amerika Latin adalah Kuba. Kuba berada di Kepulauan Antile yang dahulunya pernah menjadi negara jajahan Spanyol. Pada saat itu negara-negara Amerika Latin banyak dikuasai oleh Eropa dan hal ini membuat Amerika khawatir pada kestabilan keamanan regional benua Amerika. Amerika memberikan perhatian lebih kepada Kuba karena Kuba adalah pintu masuk strategis bagi bangsa asing untuk dapat menguasai Amerika Latin. Selain karena faktor keamanan, faktor ekonomi juga menjadi salah satu alasannya. Kuba adalah penghasil gula terbesar kedua setelah Brazil yang memasok hasil produksinya ke Amerika Serikat. Maka tidak mungkin bagi Amerika Serikat untuk merelakan tambang emas terbesar yang dimilikinya untuk dikuasai oleh bangsa asing. Tindakan nyata yang sudah dilakukan Amerika Serikat terhadap Kuba adalah dengan melakukan intervensi militer. Dalam peperangan antara Kuba dan Spanyol, Amerika muncul sebagai sosok tetangga baik yang memiliki solidaritas tinggi membantu Kuba merebut kemeredekaannya. Setelah berhasil mengalahkan Spanyol. 
          Menurut Margareth Daly Hayes, ia mengungkapkan bahwa ada tiga hal utama yang menjadi kepentingan Amerika Serikat ke Amerika Latin. Yang pertama adalah kemampuan ekonomi Amerika Latin dalam menyediakan pasar untuk Amerika Serikat. Amerika Latin memiliki sumber daya alam yang sangat berlimpah sehingga tidak heran jika banyak bangsa yang ingin menguasai daerah ini. Faktor untuk menunjang ekonomi menjadi alasan yang kuat. Kedua adalah adanya kepentingan Amerika Serikat. Amerika Serikat memiliki kepentingan besar yaitu ingin menyebarkan ideologi demokrasi miliknya ke seluruh penjuru dunia. Amerika Serikat berkeinginan untuk menjadikan semua negara sepaham dengan pemikirannya dan berjalan dibawah kendalinya. Salah satu upayanya adalah menguasai kawasan terdekat dari Amerika Serikat, yaitu Amerika Latin. Hal ketiga ialah adanya keyakinan Amerika Serikat bahwa posisi dunia baru itu harus dilindungi dan dibawah pengawasan Amerika Serikat. Bukan hanya dalam aspek geografis dan ideologi namun juga secara politik, sosial, budaya dan moral. Hal ini yang kemudian menjadi alasan Amerika Serikat mengisolasi seluruh belahan bumi barat dari pengaruh bangsa lain khususnya bangsa Eropa.  
          Amerika Serikat mengendalikan politik Kuba secara penuh. Kuba menjadi tempat strategis para investor dan turis Amerika Serikat. Hubungan yang baik antara Amerika Srikat dan Kuba terjalin pada masa pemerintahan Fulgencio Batista. Bahkan kedua pihak mengembangkan hubungan diplomatik. Kuba berharap mendapatkan bantuan ekonomi dan militer dari Amerika Serikat, sementara Amerika Serikat dapat memanfaatkan politik Kuba untuk emmpertahankan kekuasaannya. Namun pemerintahan Fulgencio yang diktator dan penuh penyelewengan membuat rakyat Kuba melakukan pemberontakan yang kemudian dipimpin oleh Fidel Castro. Sepeninggal Fulgencio Batista, Fidel Castro mengisi kursi presiden Kuba. Berbeda saat pemerintahan Fulgencio Batista yang sangat mendukung Amerika Serikat, Fidel Castro sangat menentang keberadaan Amerika Serikat di Kuba. Bahkan Fidel Castro melakukan nasionalisasi semua perusahaan asing terutama perusahaan Amerika Serikat. Sikap Fidel Castro itu sebagai wujud kemarahannya karena Kuba dijadikan budak abadi Amerika Serikat sehingga akan sulit untuk Kuba untuk berdiri sendiri menjadi sebuah negara. Amerika Srikat kemudian melakukan embargo ekonomi pada Kuba. Namun  kemudian Uni Soviet muncul sebagai pihak yang menolong kesulitan Kuba dan berjanji akan membantu secara ekonomi dan militer untuk Kuba. Mengetahui ada keterlibatan Uni Soviet di Kuba, Amerika Serikat kemudian memutuskan hubungan diplomatik dengan Kuba karena sikap Fidel Castro tersebut. Berbagai upaya dilakukan Amerika Serikat untuk menghentikan rezim Fidel Castro. Setelah berakhirnya revolusi Kuba, bertepatan dengan berakhirnya masa jabatan Presiden Amerika George W. Bush, hubungan antara Amerika Serikat dan Kuba tidak mengalami banyak perubahan yang mampu memperbaiki hubungan diplomatik antara keduanya. Kemudian pada Tahun 2009, Barack Obama resmi dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat yang baru. Presiden berketurunan Amerika-Afrika ini bahkan memasukkan rencana untuk memperbaiki hubungan Amerika dan Kuba dalam kampanye-kampanyenya. Obama ingin menunjukan niatnya untuk kembali menjalin hubungan bertetangga yang baik dengan Kuba. 

Hubungan Amerika Serikat dan Kuba Era Barack Obama 
          Langkah awal Obama untuk memperbaiki hubungan Amerika Serikat dan Kuba adalah dengan mencabut pembatasan larangan kunjungan dan pengiriman uang ke Kuba bagi warga Kuba dan Amerika yang dimana kebijakan ini menjadi salah satu rangkaian sanksi embargo Amerika Serikat kepada Kuba. Diharapkan kebijakan ini akan menjadi awal perbaikan hubungan diplomatik Amerika Serikat dan Kuba yang sebelumnya retak. Kebijakan ini disambut sangat baik oleh rakyat Kuba. Kebijakan ini muncul karena efek dari tekanan rakyat Amerika Serikat yang menganggap larangan itu menyalahi Hak Asasi Manusia (HAM). Tekanan ini bersamaan dengan dengan fase kampanye presiden Amerika Serikat dan kemudian Obama memasukkan rencana normalisasi Amerika Serikat dan Kuba sebagai salah satu kampanye besarnya. Selain penghapusan kebijakan, Amerika Serikat juga memperbaiki hubungan telekomunikasi dengan Kuba. Diharapkan dengan kembali membaiknya hubungan telekomunikasi antara Amerika Serikat dan Kuba akan mempermudah Amerika Serikat untuk memantau perkembangan pemerintahan Kuba yang sampai saat ini masih mengusung ideologi komunis, yang notabennya berseberangan dengan demokrasi Amerika Serikat. 
        Dengan dilakukannya kebijakan ini diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi Amerika Serikat dalam bidang ekonomi. Pemasukan devisa negara akan meningkat seiring beroperasinya kerjasama pada jaringan telekomunikasi antara Amerika Serikat dan Kuba. Selanjutnya adalah rencana untuk bisa menanamkan demokrasi di negara-negara Amerika Latin seperti Kuba, yang menjadi agenda besar Amerika Serikat sejak awal abad 19. Kebijakan luar negeri Amerika Serikat ini dimaksudkan untuk memelihara bumi bagian barat untuk tetap menjadi wailayah dominasi Amerika Serikat. Kawasan Amerika Latin adalah kawasan yang paling dekat dengan Amerika Serikat. Itulah mengapa Amerika Serikat lebih banyak memfokuskan perhatiannya pada Amerika Latin. Akan menjadi masalah yang besar jika kawasan Amerika Latin dikuasai oleh bangsa lain karena Amerika Serikat menjadikan Amerika Latin sebagai kawasan benteng pertahanan. Upaya-upaya yang dilakukan Amerika Serikat tidak hanya karena imperialisme atau eksploitasi ekonomi saja, namun juga persepsi bahwa keamanan dan kemakmuran Amerika Serikat sangat tergantung pada bagaimana Amerika membuat kebijakan politik luar negerinya kepada negara-negara lain. 
         Dewasa ini, Amerika Serikat masih berupaya untuk menanamkan demokrasi di tanah Kuba. Tetapi upaya-upaya yang dilakukan Amerika Serikat berbeda dengan era sebelumnya. Sebelumnya, Amerika Serikat memandang komunis di Kuba adalah sebuah penyakit yang harus dibasmi sekalipun lewat jalan kekerasan. Namun pada saat ini, Amerika Serikat mengubah sudut pandang tersebut dan melihat Kuba sebagai salah satu mitra bisnis strategis yang dapat menguntungkan Amerika Serikat. Ditemukan beberapa titik minyak di tanah kuba yang menyimpan milyaran ton minyak mentah. Atas kepentingan inilah, pada pemerintah Barack Obama melakukan banyak perubahan dalam meringankan embargo yang telah dilakukan Amerika Serikat pada Kuba. Jika kerjasama antara kedua negara ini bisa berjalan dengan lancar, maka keuntungan yang sangat besar dalam bidang ekonomi menjadi faktor utama dibandingan kepentingan untuk menanamkan demokrasi di Kuba. 


Daftar Pustaka 
Bradley, William dan Mochtar Lubis. 1991. Dokumen-Dokumen Pilihan tentang Politik Luar Negeri Amerika Serikat dan Asia : Yayasan Obor Indonesia, 1991.  
Brenner, Philip. 1988. From Confrontation to Negotiation US Relations with Cuba. United States of America : Westview Press, 1988. 
Dominguez, Jorge dan Rafael Hernandez. 1989. US-Cuban Relations in The 1990s. United States of Amerika : Westview Press, 1989. 
Ika Akbarwati, “ Sejarah Gejolak Hubungan Amerika Serikat dan Kuba” . https://www.selasar.com/politik/sejarah-gejolak-hubungan-amerika-serikat-dan-kuba. Diakses pada tanggal 20 Juni 2015

Kamis, 04 Desember 2014

Logika dan Perasaan

Diposting oleh Novela Dinar Puspitasari di 22.32 0 Note
Darimana aku harus memulai cerita tentang cinta?
Ketika aku merasakan anehnya denyutan didada kiriku setiap kali mataku menemukanmu? Atau ketika terucap ejaan cinta dari mulutmu untukku?
Aku hanya tak memahami darimana cinta muncul dan selalu meracuni otakku dengan keindahan-keindahan yang ditawarkannya. Iya, aku mengakui bahwa aku bahagia. Bahagia dengan kata cinta yang menggerogoti seluruh logikaku. Cinta begitu indah dikisahkan hingga tak ada kecacatan yang terlihat. Dia bagaikan malaikat yang selalu sempurna dan suci.Dan aku masih saja tak mengerti.

Kata mereka, sekarang bukanlah masalah ketika cinta antara 2 insan yang tak berada dalam satu payung. Mungkin dahulu ketika semuanya belum seperti sekarang, insan-insan yang siap bercinta harus menuruti apa kata para tetua. Bahkan untuk mengaitkan emas di jari manispun juga dalam kuasa mereka. Kini semuanya yang serba tak ada masa lalu, semuanya yang baru, yang tak terbatas, kenapa masa lalu itu masih saja berlaku?
Katanya sudah sama saja. Katanya sudah adil. Katanya sudah era globalisasi. Tapi apa? Masih ada mereka yang lain memilih untuk tetap mencari aman dengan sedikit membenci orang diluar lingkaran mereka.
Aku masih tak mengerti.

Kenapa dan kenapa? Katanya jodoh itu kuasa Tuhan. Katanya cinta itu bukan wewenang manusia untuk menentukannya. Lalu bagaimana dengan semua yang terjadi tepat di depan mataku? Apakah aku sebenarnya sedang berada di masa lalu? Kenapa cinta tidak lagi bisa menjadi satu-satunya alasan untuk mengikrarkan janji di depan Tuhan? Kenapa hanya mereka yang terpilih dan mendapat anggukan dari para tetua mereka masing-masing yang berhak membuat keindahan baru dalam hidup mereka? Berjalan dengan gaun yang indah, tersenyum satu sama lain lalu bergandengan tangan untuk menjemput kebahagiaan selanjutnya. Lalu kami yang masih percaya bahwa cinta akan menghilangkan rintangan-rintangan, akan dikemanakan?

Salahkah untuk percaya bahwa asumsi masa lalu dan sekarang itu sudah berbeda? Kenapa takdir dimana kelahiran terjadi membuat seakan-akan sebuah jarak yang lebar diantara semua kelahiran yang ada? Kenapa?

Seakan-akan kita semua lahir untuk saling membenci. Saling menghargai hanya sebagai topeng untuk menaikkan sudut pandang orang yang berada di lingkaran lain saat melihat lingkaranmu. Kita semua gila akan popularitas !

Harus bagaimana aku sekarang?
Bagaimana mematikkan api yang sudah membesar dan melambung begitu tinggi?
Butuh banyak waktu untuk menerima apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Terlalu banyak penyangkalan yang perasaan lakukan kepada logika. Ketika logika menolak, perasaan selalu punya alasan untuk mempertimbangkan. Perasaan akan selalu membuat pilihan itu kembali dan tak akan pernah ada jawaban pastinya. Semuanya hanya dalam sebuah kata bimbang yang mengambang. Ketika perasaan terus menekan masuk, logika akan terus mendorong keluar.

Aku tidak peduli lagi seberapa besar penyangkalan yang selalu hadir dalam benakku untuk terus berperang dengan logika. Aku menghargai logika. Aku menyetujui apa yang dia katakan. Aku menghargai perasaan. Aku mengikuti arusnya yang selalu membuatku senang. Tapi aku marah. Bukan kepada Tuhan tapi kepada diriku. Tuhan mempertemukan kita tak selalu berarti jodoh. Tapi kenapa diriku begitu bodohnya menganggap semua ini adalah jodoh?

Aku hanya tak ingin menyerah untuk cinta saat ini. Masih ingin berjalan disisimu walau sesungguhnya aku tak yakin akan berapa lama itu akan bertahan. Aku tahu, akan ada mereka yang akan mendorongku untuk pergi. Mereka akan memaksaku untuk tak lagi berada dalam hidupmu. Aku percaya mereka akan melakukan banyak kejahatan padaku.

Sejujurnya aku takut. Aku takut kita tidak akan bisa berbuat apapun selain diam dan menurut. Aku ingin berontak, tapi sepertinya kamu tidak bisa melakukannya bersamaku. Apalah artinya pemberontakan di satu pihak sementara pihak yang lain tak melakukan apa-apa?
Keragu-raguan terus menggelayuti diriku. Setiap detik.

Setiap aku bernafas, rasanya aku ingin menangis. Mengadu pada Tuhan di setiap sujudku, kenapa semua ini bisa terjadi? Tuhan, apa yang bisa aku lakukan?Aku hanya tak ingin menyerah. Itu saja, Tuhan.Salahkan aku percaya pada satu jodoh yang engkau berikan padaku? Salahkah aku menebak-nebaknya? Salahkah aku, Tuhan?

Aku hanya ingin bertahan dan terus mencintaimu. Sesederhana itu saja.
Salahkah?


Minggu, 19 Oktober 2014

Tuan yang Sangat Baik Hatinya

Diposting oleh Novela Dinar Puspitasari di 03.09 0 Note
Di tengah linangan air mata yang terus mengalir perlahan membasahi pipi yang berlemak ini, aku ingin mengungkapkan banyak hal yang tak pernah ku tahu bagaimana akhirnya. Aku tak pernah bisa tahu cara untuk menyelesaikan semua sebab ini yang selalu membuatku menghasilkan air mata berlebihan. Hal-hal yang menyiksa diriku sendiri dan banyak hal bodoh yang harusnya tak di lakukan oleh orang yang normal pikirannya. Mungkin memang aku sudah gila.

Gadis bodoh yang sangat mudah ditaklukan oleh cinta. Aku. Gadis gila yang tak pernah berhasil membuat dirinya menghindari jatuh ke lubang yang sama. Iya Aku. Gadis yang tak pernah bisa melakukan apapun selain menangis dan menyesali dirinya yang terlalu bodoh dan gila. Benar sekali, tak lain dan tak bukan adalah aku.

Sejak awal perkenalan kita yang semuanya seakan tak sengaja. Begitu apik Tuhan gariskan takdir itu untuk kita. Semua berjalan bagaikan alur cerita sinetron remaja yang mengambil tema cinta-cintaan ABG. Bahkan setiap kali aku mengulang kembali momen-momen itu, rasanya aku masih saja tak percaya itu dapat terjadi padaku, Aku masih tak bisa menerima garis yang sudah kini ku ikuti. Semuanya bagaikan sandiwara.

Tuan yang baik hatinya.
Tuan yang berhasil mengambil hatiku yang bahkan masih dalam bentuk serpihan. Tuan yang tak harus menunggu hatiku kembali utuh. Tuan yang berjanji akan membantuku mengumpulkan serpihan-serpihan hati yang tersisa hingga selesai menjadi hati yang utuh seperti semula.

Tuan yang terlalu baik bagi gadis bodoh dan gila yang tak tahu diri ini. Aku terlalu egois untuk memulai membicarakan cinta kita. Sekedar untuk memperjuangkannya, Aku selalu memilih untuk diam dan menunggu Tuan Muda itu menjemputku terlebih dulu. Aku gadis egois yang jahat. Aku tak patut mendapatkan kebaikan Tuan itu.

Awalnya semuanya berjalan baik-baik saja. Pola itu terus ku ulangi. Bodoh sekali.
Tapi seharusnya aku tahu, ada kalanya pola itu akan sampai pada klimaks dan akan menemui titik jenuhnya. Dan jika sudah menemukan titik akhirnya maka pola itu tak akan lagi berarti. Semua itu hanya akan menjadi pola yang sia-sia. Dan harusnya aku menyadari itu sebelum semuanya terjadi.

Wahai Tuan yang baik hatinya.
Kenapa seakan kini engkau menjauh dari bayanganku? Kenapa Tuan tak lagi datang menjadi mimpi baik dalam mimpi burukku. Akankah engkau juga akan ikut menjadi mimpi buruk dari segala mimpi buruk yang pernah ku punya?

Wahai Tuan yang baik hatinya.
Kemana diri yang dulu begitu aku paksa untuk menerima rasa egoisku? Kemana dia pergi? Aku tak suka jika semuanya begini. Memang aku egois, aku ingin menjadi pemenang dari permainan ini. Aku ingin Tuan mengikuti bagaimana permainan ini awalnya dimulai. Jangan membuatmu malah berhenti ditengah permainan dan berniat untuk pergi mencari permainan yang lain.

Tuan yang sangat baik hati dan jiwanya.
Katakan padaku apa yang salah dari sisi egoisku? Katakan apapun yang bisa kau katakan. Jangan hanya diam seperti ini. Aku bukan mereka yang mudah menebak isi hati orang lain dan menjadi bahagia ketika akhirnya tahu apa yang terjadi. Aku ingin semua penyesalan itu keluar dari anggota badanmu yang bernama mulut. Aku tak suka membaca gerak gerik atau bahkan menjadi peramal yang seolah-olah tahu segalanya padahal semuanya itu tak sepenuhnya akan menjadi benar. 

Tuan yang sangat baik.
Jika engkau ingin mengatakan aku tak patut untuk di cintai karena aku bodoh, gila, egois, jahat dan banyak lagi, cukup katakan padaku dengan kemauanmu. Jangan membuatku menunggu dan mengira-ngira apa yang terjadi. Aku membencinya. 

Tuan ....
Hingga detik ini aku masih ingin kita kembali seperti dulu ketika kita memulai cerita ini. Saling tersenyum bahagia dan hidup tanpa beban. Aku ingin duri-duri yang menancap pada jalan cerita kita ini segera kita bersihkan. Bukan hanya aku saja. Bukan hanya kamu saja. Kita akan membersihkannya bersama-sama. Maukah?

Tuan, tolong jawab aku. Tolong bilang iya. Jangan sebaliknya. Entah jika sampai Tuan memberikan jawaban yang sebaliknya. Aku tak pernah ingin membayangkannya. Aku hanya ingin Tuan meng"iya"kan semua ini. Menerima segalanya. Mempercayakanku atas kepercayaanmu.

Maafkan waktu yang sudah ternoda dengan banyak noda yang sia-sia ini, Wahai Tuan yang selalu ingin ku dekap punggungnya selama yang ku bisa.

Kamis, 16 Oktober 2014

Surat Bosan yang Tak Berharga

Diposting oleh Novela Dinar Puspitasari di 10.10 0 Note
Untukmu yang selalu membuatku bosan tanpa henti ...


Selamat malam wahai malam yang selalu mencekam.Gadis berkacamata yang tak bisa hidup sendirian ini sedang ingin bercerita panjang lebar denganmu. Bolehkah? Maukah mendengarkan semua kalimat yang keluar dari mulut gadis yang tak pernah beruntung ini?

Aku hanya ingin selalu mencintainya dengan caraku wahai malam. Aku hanya ingin terus menyandingkan diri yang tak cukup cantik ini dengan sosok yang selalu mata ini tatap. Dengan semua kebodohan yang selalu ku buat, aku selalu berusaha untuk tetap menyeimbangkan posisiku seperti awalnya aku berdiri. Aku bahkan tak ingin sekedar bergeser satu inci pun dari tempat semula. Karena sesuatu yang berpindah itu tetap saja sama. Semuanya akan terasa baru. Sedangkan aku tak terlalu menyukai apa yang bisa dikatakan baru itu. Aku hanya suka rutinitasku yang biasanya. Aku akan selalu menyukainya tanpa rasa bosan. Itulah kenapa aku harus tetap mempertahankan posisi ku sama seperti sebelumnya.

Wahai malam yang menjelang pagi. Andaikan hatiku tak sekokoh batu karang, andaikan saja. Mungkin saat ini aku lebih memilih menyerah dan pergi karena lelah terus berlari. Walaupunn sesungguhnya aku berlari dengannya. Dengan diri yang sudah ku pilih sendiri. Tapi aku terlalu takut menghadapi kenyataan dimana aku akan mulai bosan berlari dengannya, mulai lelah menggerakkan tubuhku untuk sekedar mengimbangi sikapnya, bahkan untuk tersenyum saja aku harus berpikir-pikir dulu. Demi apapun tak seharusnya aku takut dengan manusia. Harusnya tidak boleh seperti itu.

Sampai detik ini, detik dimana aku selalu bergelut dengan pikiran dan perasaan yang bertolak belakang. Aku lelah mendengarkan mereka senantiasa bicara kasar hanya ingin mengukuhkan argumen mereka yang tak pernah ada akhirnya. Mereka selalu ingin menjadi yang benar dan tak mau di persalahkan, Jika semuanya ingin benar, lalu siapa korban yang harus kalah?

Berlari sejauh ini tentu saja sudah sangat terlambat jika harus kembali lagi ke garis awal. Harus kembali dari nol. Dan sekali lagi aku katakan bahwa aku tak suka memulai segalanya dengan kata baru!

Dari banyaknya kekurangan, selalu ada kelebihan yang menutupinya. Dari banyaknya alasan untuk melepaskan, selalu ada satu alsan untuk mempertahankan. Kenapa? Entahlah, aku masih tak ingin terlalu memikirkannya. Aku bingung dan ... lelah.

Menangisinya setiap kesempatan. Entah karena luapa emosi yang berlebihan atau karena kebingungan dan tak ada solusi yang ku dapat.

" Maafkan aku ..."

Itu kalimat yang sederhana namun maknanya sangat banyak ! Berulang kali aku selalu mendengarkan kalimat itu dan berulang kali pula aku merasa disiram air es. Aku membeku, terdiam, membungkam diriku yang mengatakan untuk menolaknya, Entah hipnotis apa yang dilakukan oleh kalimat itu hingga aku tak pernah bisa berkutik dengan kalimat itu. Pikiranku mulai bosan mendengar kalimat itu, tetapi perasaanku malah selalu mengharapkan kalimat itu akan muncul sesering mungkin. Kenapa begini? Tubuhku sepertinya selalu tak kompak dalam hal beginian.

Aku hanya terus menghela nafas menenangkan diri walaupun aku tak yakin diriku bisa tenang hanya karena helaan nafas yang tak terlalu berarti. Tapi ... Ahh sudahlah. Pada intinya aku lelah. Aku bosan wahai malam yang selalu sepi dan menakutkan.

Banyak alasan agar aku menyerah, tapi akan selalu ada alasan untuk bertahan. Bahkan satu alasan bertahan bisa mengalahkan 1000 alasan menyerah lainnya. Kenapa?

Karena aku mencintainya. Iyaa, aku cinta padanya. Aku tak ingin dia pergi. Tapi bagaimana aku menghadapi kebosanan dan kelelahan yang entah kapan akan jatuh pada titik jenuhnya? Aku tidak tahu, aku sedang amat sangat lelah sekali. Aku lelah. Yaa, aku sedang lelah. Biarkan aku tenggelam dalam lelah ini sejenak. Semoga aku kan segera berenang ketepian untuk menjemput harapan. Menjemputmu wahai Pangeran yang selalu membuatku sebal !


Dari Gadis Berkacamata yang sedang bingung dengan kebosanannya ~

Senin, 07 Juli 2014

Tempat Terindah Sepanjang Masa. Tempat yang Indah untuk Jatuh Cinta. Jogja ...

Diposting oleh Novela Dinar Puspitasari di 09.52 0 Note

Apa hal pertama yang terbesit ketika mendengar Malioboro Street?
Apa kesan pertama yang terpikirkan ketika melihat monumen Tugu?
Apa yang mengingatkan jika membicarakan tentang Parangtritis Beach?

Jogja ... Yaa dialah pokok dari segala masalah ini.

Kota paling istimewa di Indonesia. Entah apa yang membuatnya Istimewa dari kota-kota lain. Tapi harus ku akui Jogja membosankan jika kalian sudah tau seluk beluknya. Kota yang terkepung oleh jalanan melingkar bernama Ring Road, pinggiran kotanya bahkan masih tergolong Kota tua dengan bongkahan bongkahan bangunan tuanya. Terasa klenik? Iyaa.
Kemacetan dimana-mana sehingga kita harus memutar otak mencari jalan alternatif agar tak terjebak macet. Hawanya juga cukup untuk membakar kita hidup hidup jika kita memaksa untuk nekat. Setiap tahun banyak orang yang datang dan mengaku sebagai perantau. Mereka datang dengan tujuannya masing-masing. Tapi jelas, pemikiran mereka sama. Kenapa harus Jogja? Karena Jogja Istimewa.

Aku sudah menetap di Jogja selama setahun sebagai mereka para perantau. Melanjutkan studi S1 ku di sebuah kampus di pinggiran kota. UGM? Bukan. UGM memang termasuk kampus pinggiran kota, tapi UGM belum saatnya menerimaku sebagai bagian dari keluarga besarnya. Apa mau di kata jika memang takdir dan usaha berbanding terbalik.

Sebagai mahasiswi baru yang masih dengan gayanya sok sok kece karena sudah keluar dari lingkaran berseragam, menelusuri Jogja itu adalah kewajiban yang sepadan dengan masuk kuliah setiap hari. Tak ada waktu yang terbuang sia-sia untuk sekedar berkeliling Jogja atau duduk duduk cantik di kafe-kafe yang hampir di setiap jalan pasti ada. Mulai dari kedai susu yang terkenal di dekat UGM " Kali Milk " dengan harganya yang cukup menjulang sampai kedai-kedai susu eceran yang harganya merakyat. Kafe 24 jam yang cocok untuk begadang seperti " Semesta " atau tetangganya, "  Legend " di daerah Kotabaru. Dan masih banyak tempat yang begitu populer di Jogja yang masuk daftar wajib untuk di kunjungi baik dengan kantong tebal atau tipis.
Tapi setahun penuh disini sudah cukup menyenangkan. Aku bertemu orang-orang baru dan yang paling menyenangkannya lagi aku bisa berkenalan dengan mereka-mereka yang datang dari luar jawa dengan membawa budaya mereka masing-masing. Mereka datang dari Sabang sampai Merauke tanpa terkecuali. Di sini seperti miniatur Indonesia. Mereka dengan budayanya tentu membuatku geli untuk sekedar kepo mempelajari bahasa atau bahkan berselisih paham menyebut sebuah istilah yang sama namun berbeda pengertian. Ini mengasyikkan. Aku suka. Mungkin ini pula yang membuat Jogja menjadi terasa istimewa karena Jogja itu berbeda.
Dan di sini pula aku menemukan cintaku. Terlalu dini untuk membahasnya terlalu jauh karena kami belum menginjak pada jenjang lebih serius. Tapi rasanya aku bersyukur bisa menemukannya dari milyaran manusia di Jogja ini. Dulu, dulu sekali aku pernah berkata pada teman-teman sekolahku aku akan menemukan cintaku di Jogja. Kota impianku sejak kecil. Walaupun aku sudah pernah menemukan ' orang jogja ' sebagai sosok yang ku pikir bisa mendampingiku dan ternyata aku salah memilihnya. Sempat takut memulai cerita kembali? Iya, tentu. Ada rasa ketakutan dalam diriku mengulangi kesalahan yang sama. Rasa sakit itu terlalu menyakitkan hingga sampai detik sebelum aku menemukannya, perih itu masih saja menyiksa. Tapi kemudian dia datang dengan caranya untuk mendekatiku. Membuatku merasa nyaman terlebih dahulu dengan gayanya. Lalu membuat sebuah kepercayaan yang pada akhirnya membuatku berani memutuskan untuk mencoba memulai kisah baru dengannya. Aku menerimanya apa adanya. Apa adanya yang dia punya dan kekurangannya. Dia mampu bersabar menghadapiku. Menjadi air ketika aku menjadi api. Itulah mengapa saat ini aku berusaha untuk terus bersamanya. Aku tak mau kehilangan sosok yang sempurna -bagiku- demi sosok yang entah kelak seperti apa lagi. Yang belum tentu bisa mengerti aku sejauh yang dia bisa lakukan saat ini. Dia jarang marah, bahkan tidak pernah. Aku nyaman ketika berdiri di sisinya. Nyaman sekali.

Ini alasan mengapa Jogja begitu istimewa bagiku. Akhirnya aku menemukannya. Itulah kenapa Jogja selalu membuatku rindu ketika ditinggalkan. Entah rasa apa yang bergejolak didada ini hingga ingin rasanya cepat-cepat kembali menginjak tanah Jogja.
Tempat terindah sepanjang masa. Tempat yang indah untuk Jatuh Cinta.

Jogjaa, I'm in Love !

Minggu, 06 Juli 2014

...

Diposting oleh Novela Dinar Puspitasari di 09.14 0 Note


- LALU ADIGEDE MAOLANA GAFAR -

Thanks you already found me so far :)

Terima Kasih

Diposting oleh Novela Dinar Puspitasari di 09.04 0 Note
percayakah dirimu pada keindahan cinta?
yang membuat jiwa ini merona jingga ...
percayakah dirimu ada kekuatan cinta?
yang memberi kita waktu untuk bersama lagi ...

karena cinta ... ku ada disini ...

cintai dirimu walau sebentar saja ...

terbanglah bersama diriku menuju langit biru ...

teriakkan kata cintamu sedahsyat halilintar ...
melayanglah bersama diriku melintasi samudra ...
tarikanlah tarian cintamu seindah gelombang ...

- Cinta, Acha & Irwansyah ( OST Ada Cinta )


Tuhan ...
Bolehkah hambamu yang lemah ini bertanya pada engkau tentang sesuatu hal?
Jika di tanya tentang apa, aku pun tidak mengerti dengan jelas apa yang akan aku tanyakan.
Aku hanya bisa mengatakannya,
" Tuhan, kenapa ada namanya cinta ? "
Tak pernah terbesit sejengkal pun aku ingin menanyakannya. Aku hanya hamba yang lemah sama seperti hamba-hamba Tuhan yang lain. Tidak ada yang spesial. Aku tidak punya apa-apa. Hanya saja sebutan cinta itu memancing diriku untuk berpikir dan bertanya-tanya. Cinta itu apa?
Ketika diri yang lemah ini menggigil kedinginan dan hampir membeku layaknya es batu, rengkuhan lembut mengelilingi sekujur tubuhku. Perlahan-lahan rasa dingin itu hilang di gantikan oleh rasa hangat yang nyaman. Biasanya di sebut dengan pelukan. Ya, mereka bilang seperti itu.
Aku iseng meletakkan hal yang bernama tangan dengan 5 jarinya sebelah kanan ke hal yang bernama dada di sebelah kiri. Rasa itu. Kenapa?
Duk Duk Duk ...
Kenapa ada yang sedang mengetuk dada kiriku?
Tuhan, itu kah engkau?
Tapi nyatanya bukan. Tuhan, tidak menjawab sapaanku. Tuhan, tidak pernah diam ketika ku panggil asmanya. Tuhan selalu menjawab panggilanku. Walaupun hanya aku yang bisa merasakannya ... dalam hati.
Tuhan, ini apa?
Kenapa dada kiriku diketuk makin kencang ketika dua bola hal bernama mata itu menyorot lembut pada mataku. Tatapannya yang sayu seakan dapat meredakan kegugupanku yang tak terkontrol. Menjurus lurus tiada ampun.

Lalu ketika ia mulai menarik hal bernama bibir itu ke samping kanan dan kiri sehingga membentuk senyuman -begitu mereka bilang- menarik pipinya semakin melebar dan menyisakan sebuah jurang manis di pipi kirinya. Lesung pipi.
Dia. Yaa dia. Dia memelukku lembut dengan caranya. Diriku yang meringkuk kedinginan awalnya, lambat laun mulai menerima keberadaan dia yang begitu dekat dengan tubuhku. Nyaman sekali. Sangat nyaman, Tuhan.
Satu kecupan mendarat di ubun-ubun kepalaku. Dengan lembut juga. Aku merasa nyaman juga untuk kedua kalinya. Tuhan, sebenarnya ini apa? Kenapa begini? Apakah Cinta itu seperti ini?
Cintakah yang membuat segalanya selalu menjadi lebih baik dari sebelumnya?
Cintakah yang membuat setiap orang merasa nyaman?
Cintakah namanya?
Tuhan, jawab aku. 
Apa yang harus aku lakukan? Jika memang ini cinta, lalu aku harus bagaimana?
Cinta harus seperti ini kah?
Tuhan, tolong jawab pertanyaanku. Ku mohon.
Jikalau memang ini bernama cinta, terima kasih Tuhan Engkau telah memperkenalkannya padaku. Aku nyaman. Aku bahagia.

Terima kasih ... Tuhan
Terima kasih ... Cinta ...

Kalimat Terakhirmu

Diposting oleh Novela Dinar Puspitasari di 03.14 0 Note

 



Kamu berdiri diantara kehidupan. Antara kejamnya dunia dan hangatnya kebersamaan. Rembulan setia menemanimu menangis dan mendengarkan hatimu meronta. Kulihat di malam yang dingin ini kamu mencoba menahan diri dari kenyataan. Namun yang hanya dapat kamu rasakan adalah penyesalan. Kamu renungkan apa yang terjadi. Terdiam, membiarkan suara desah malam memperhatikanmu. Sendu dan terluka terlihat dari pancaran wajah indahmu. Serbuan air mata yang menunggu untuk menetes, menyatu dengan dinginnya malam ini. Selalu kuperhatikan tingkah dan kemauanmu.


Seorang lelaki tinggi dengan lembut mendekatimu dan mengajakmu masuk kedunia yang lebih nyaman dan hangat. Kamu hanya tersenyum dan berkata “ Iya, segera”

Lelaki itu membalas senyumanmu, membelai rambut panjangmu yang dulu begitu ku favoritkan lalu mengecup keningmu dengan penuh kasih sayang. Lalu lelaki itu pun masuk dan menunggumu disana. Lelaki yang memang sudah di gariskan oleh takdir untuk berdiri di sampingmu. Menemanimu menjadi pasangan hidup. Bukan aku.

Kamu kembali menatap rembulan yang dulu pernah kita yakini bersama. Jika ada rembulan disana maka aku sedang berada disampingmu. Kamu hanya tersenyum dan membuka liontin kerang yang harusnya kuberikan sendiri pada hari ini ulang tahunmu.

Angin malam berhembus kencang menerpa tubuh lemahmu. Aku ingin memeluk dan menghangatkanmu. Namun, disini aku hanya dapat menyesali diri. Kamu mulai bercerita tentang kita kepada dunia malam. Tentang kebersamaan dan keceriaan kita dulu. Kadang kamu tertawa, kadang kamu menangis dan kadang kamu kecewa.

Namun disini aku sangat bersyukur. Kamu diberi kesempatan lebih,walaupun kita harus terpisah oleh waktu. Kejadian lalu yang membuat kamu dan aku tak dapat bersatu kembali. Kejadian dimana malaikat menjemputku pulang. Kita sama-sama tahu bahwa apa yang kita lakukan tak seharusnya terjadi. Kini, aku hanya dapat melihatmu dari jauh hati. Di malam Ulang Tahunmu yang paling kau dambakan ini aku telah menepati janjiku padamu. Walaupun hanya jiwaku saja yang menemanimu. Aku akan selalu bersamamu walaupun ragaku telah mati. Aku juga percaya, malam ini disaat rembulan dan dunia malam hidup kau akan selalu kulihat bahagia. Aku ingin katakan,   

Selamat Ulang Tahun..........

Aku tahu kalimat itu yang harusnya kuucapkan padamu malam ini.Walaupun hanya sebuah bisikan sayang, tapi aku tahu kamu mendengarnya..........

Kamu tersenyum dan air mata jatuh menetes dipipi merahmu. Kemudian kau ucapakan perlahan. Dan aku tahu itu kamu ucapkan untukku,                                             

Terima Kasih................Wanitaku...


Kamis, 03 Juli 2014

Indah Cintaku :)

Diposting oleh Novela Dinar Puspitasari di 17.19 0 Note

ku ingin kau tahu, ku ingin kau selalu dekat denganmu setiap hariku ...
sudahkah kau yakin untuk mencintaiku? ku ingin hanya satu tuk selamanya


ku tak melihat dari sisi sempunamu, tak peduli kelemahanmu
yang ada aku jatuh cinta karena hatimu

cintaku tak pernah memandang siapa kamu, tak pernah menginginkan kamu lebih dari apa adanya dirimu ... selalu
cintaku terasa sempurna karena hatimu, selalu menerima kekuranganku
sungguh indah cintaku ...


sudahkah kau yakin untuk mencintaiku? ku ingin hanya satu tuk selamanya
ku tak melihat dari sisi sempurnamu, tak peduli kelemahanmu
yang ada aku jatuh cinta karena hatimu

cintaku tak pernah memandang siapa kamu, tak pernah menginginkan kamu lebih dari apa adanya dirimu selalu
cintaku terasa sempurna karena hatimu, selalu menerima kekuranganku
sungguh indah cintaku, cintaku ...


cintaku tak pernah memandang siapa kamu, tak pernah menginginkan kamu lebih dari apa adanya dirimu selalu
cintaku terasa sempurna karena hatimu, selalu menerima kekuranganku
sungguh indah cintaku, sungguh indah cintaku ...
 indah cintaku :)


Sabtu, 08 Maret 2014

Andaikan Aku adalah Mereka ....

Diposting oleh Novela Dinar Puspitasari di 22.23 1 Note

Ketika serbuan air turun dari langit membasahi jendelaku yang kesepian, aku hanya berdiri termenung menatapnya tak bisa membayangkan apapun. Kemudian kakiku memaksa untuk mendekat hingga akhirnya aku kini sudah duduk di samping jendela menenaminya yang kedinginan. Tak ada yang istimewa dari proses air itu turun lalu membasahi jendelaku dan tertinggal beberapa titik di sana. Ia tak bergerak karena ia hanya bisa menunggu matahari muncul kan membuatnya menguap ke udara.
Di luar sana basah, dingin dan sepi ....
Sama seperti apa yang sedang ku rasakan jauh-jauh menjatuhkan diri ke dalam benakku sendiri. Yang bisa ku lakukan hanya diam disini ketika hujan turun membasahi ibu pertiwi. Tak bisa kemana-mana selain berkutit dalam bangunan bertudung untuk melindungiku dari basah. Seperti hal nya apa yang sedang ku rasakan sejujurnya bahwa hidupku sudah terlalu sempit untuk di tinggali lebih lama. Aku sudah waktunya mencari yang lebih luas agar hidupku yang baru lebih menyenangkan untuk di jalani.
Apa yang kau lihat selain kesedihan?
Aku tidak sedih, aku hanya bingung.
Mengapa hidupku tak bisa sesederhana mereka, dan mengapa takdirku tak seberuntung mereka?
Hujan tak pernah menolak dimana ia akan di turunkan. Matahari tak pernah protes jika suatu ketika awan menutupi sinarnya ke bumi. Atau mungkin bintang yang tak berkeberatan jika ternyata malam itu mendung mengepul dan bersiap hujan yang itu berarti bintang di malam hari tak bisa melaksanakan tugasnya dengan sempurna. Tapi apa? Mereka tak pernah marah. Lalu kenapa aku tak bisa seperti mereka?
Yaa ... karena aku memang bukan mereka. Aku manusia. Manusia yang tak pernah puas dengan apa yang sudah ada. Aku serakah. Aku egois. Tak pernah bisa bersyukur.

Minggu, 19 Januari 2014

Aku dan sebuah Cerita

Diposting oleh Novela Dinar Puspitasari di 10.19 0 Note

Hari ini tanggal 20 Januari 2014. Hari yang cukup menyenangkan. Iya. Entahlah harus bercerita darimana untuk mengungkapkan apa di balik tanggal 20 Januari ini. Hanya saja tepat setahun yang lalu untuk pertama kalinya air mata gadis yang tak pernah jatuh cinta terus berjatuhan karena sebuah kata yang memuakkan, Cinta.
Memangnya apa yang seorang gadis yang lugu dan mudah di bodohi ini ketahui tentang cinta? Dia masih awam dengan apa itu yang di sebut dengan cinta. Dia terlalu sering mengabaikan perasaannya. Mengacuhkan sakit yang di rasakannya untuk tersenyum kepada dunia seolah-olah tak terjadi apa-apa.
Tapi apakah ia berhasil memakai topengnya itu? Tentu saja jawabannya tidak.
Suatu ketika di hari lain masih di Januari ini dimana titik terendah kejenuhannya memuncak, akhirnya ia menunjukkan secara gamblang pada dunia air mata kesakitan yang sudah lama di pendamnya. Terdengar pilu tangisnya, jelas sekali ia sudah terlalu lelah untuk menjadi kuat. Rintihan tangisnya sudah menjawab semua kegelisahannya.
Untuk waktu yang tak di ketahui lamanya, gadis itu berubah menjadi sosok yang berbeda. Tak ada lagi senyum yang mengembang lebar menghiasi wajahnya setiap pagi. Wajahnya berubah suram dan ia lebih sering menatap kedua kakinya yang melangkah ketimbang melihat bagaimana sekitarnya.
Namun Tuhan masih berbaik hati pada gadis itu dengan menyadarkannya bahwa bukan karena semua ini maka dunianya sudah usai. Justru ini adalah sebuah awal untuk melangkah ke dunia yang baru. Tuhan begitu baik. Tuhan merangkul gadis itu untuk menenangkannya. Walaupun "sembuh" dalam waktu yang tak sebentar, namun kini gadis itu bisa tersenyum lagi.
Bahkan di hari ini dia sedang bahagia. Karena kisah yang sedang di jalaninya sedang dalam tahap gembira. Senyum gadis itu mereka tiada letih, setiap harinya tak bosan ia menyambut pagi dengan rasa tak sabar.
Gadis itu sedang jatuh cinta ...
Bukan lagi dengan orang yang sama. Kisahnya sudah berbeda. Walaupun apa yang di rasakan gadis itu sebenarnya salah. Yaa, ia tau ini semua kesalahan. Tak seharusnya ia jatuh cinta padanya. Padanya yang tak mungkin menjadikan gadis itu nomor satu di hatinya. Akankah kisah Januari setahun yang lalu itu akan terulang lagi?
Gadis itu memilih untuk mematikan rasanya jika sampai kisah salah itu terulang. Lebih baik perasaannya mati daripada harus menahan sakit lagi dan lagi.
Gadis itu mencintainya. Ya, dia begitu mencintai sosok baru dalam kisahnya. Gadis itu ingin memilikinya, walaupun sesungguhnya semua hanya khayalan belaka ....


Gadis itu sudah menyembuhkan lukanya. Luka yang menggores sangat dalam di hatinya. Bahkan sampai detik ini, rasa sakit itu masih saja terasa walaupun hanya beberapa persen kecil. Apalah artinya masa lalu? Ia hanya hal yang sudah lewat untuk bisa kita pelajari. Kenapa memikirkan sesuatu yang sudah lewat jika di depan sana sedang ada yang menunggu seraya mengulurkan tangan untuk menjemputmu.
Cinta itu menyakitkan. Itu;ah kesan pertama yang gadis itu simpulkan. Lalu gadis itu menambahkan bahwa cinta yang menyakitkan akan berujung pada kebahagiaan ....

 

Novela Dinar Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos