Kamis, 04 Desember 2014

Logika dan Perasaan

Diposting oleh Novela Dinar Puspitasari di 22.32
Darimana aku harus memulai cerita tentang cinta?
Ketika aku merasakan anehnya denyutan didada kiriku setiap kali mataku menemukanmu? Atau ketika terucap ejaan cinta dari mulutmu untukku?
Aku hanya tak memahami darimana cinta muncul dan selalu meracuni otakku dengan keindahan-keindahan yang ditawarkannya. Iya, aku mengakui bahwa aku bahagia. Bahagia dengan kata cinta yang menggerogoti seluruh logikaku. Cinta begitu indah dikisahkan hingga tak ada kecacatan yang terlihat. Dia bagaikan malaikat yang selalu sempurna dan suci.Dan aku masih saja tak mengerti.

Kata mereka, sekarang bukanlah masalah ketika cinta antara 2 insan yang tak berada dalam satu payung. Mungkin dahulu ketika semuanya belum seperti sekarang, insan-insan yang siap bercinta harus menuruti apa kata para tetua. Bahkan untuk mengaitkan emas di jari manispun juga dalam kuasa mereka. Kini semuanya yang serba tak ada masa lalu, semuanya yang baru, yang tak terbatas, kenapa masa lalu itu masih saja berlaku?
Katanya sudah sama saja. Katanya sudah adil. Katanya sudah era globalisasi. Tapi apa? Masih ada mereka yang lain memilih untuk tetap mencari aman dengan sedikit membenci orang diluar lingkaran mereka.
Aku masih tak mengerti.

Kenapa dan kenapa? Katanya jodoh itu kuasa Tuhan. Katanya cinta itu bukan wewenang manusia untuk menentukannya. Lalu bagaimana dengan semua yang terjadi tepat di depan mataku? Apakah aku sebenarnya sedang berada di masa lalu? Kenapa cinta tidak lagi bisa menjadi satu-satunya alasan untuk mengikrarkan janji di depan Tuhan? Kenapa hanya mereka yang terpilih dan mendapat anggukan dari para tetua mereka masing-masing yang berhak membuat keindahan baru dalam hidup mereka? Berjalan dengan gaun yang indah, tersenyum satu sama lain lalu bergandengan tangan untuk menjemput kebahagiaan selanjutnya. Lalu kami yang masih percaya bahwa cinta akan menghilangkan rintangan-rintangan, akan dikemanakan?

Salahkah untuk percaya bahwa asumsi masa lalu dan sekarang itu sudah berbeda? Kenapa takdir dimana kelahiran terjadi membuat seakan-akan sebuah jarak yang lebar diantara semua kelahiran yang ada? Kenapa?

Seakan-akan kita semua lahir untuk saling membenci. Saling menghargai hanya sebagai topeng untuk menaikkan sudut pandang orang yang berada di lingkaran lain saat melihat lingkaranmu. Kita semua gila akan popularitas !

Harus bagaimana aku sekarang?
Bagaimana mematikkan api yang sudah membesar dan melambung begitu tinggi?
Butuh banyak waktu untuk menerima apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Terlalu banyak penyangkalan yang perasaan lakukan kepada logika. Ketika logika menolak, perasaan selalu punya alasan untuk mempertimbangkan. Perasaan akan selalu membuat pilihan itu kembali dan tak akan pernah ada jawaban pastinya. Semuanya hanya dalam sebuah kata bimbang yang mengambang. Ketika perasaan terus menekan masuk, logika akan terus mendorong keluar.

Aku tidak peduli lagi seberapa besar penyangkalan yang selalu hadir dalam benakku untuk terus berperang dengan logika. Aku menghargai logika. Aku menyetujui apa yang dia katakan. Aku menghargai perasaan. Aku mengikuti arusnya yang selalu membuatku senang. Tapi aku marah. Bukan kepada Tuhan tapi kepada diriku. Tuhan mempertemukan kita tak selalu berarti jodoh. Tapi kenapa diriku begitu bodohnya menganggap semua ini adalah jodoh?

Aku hanya tak ingin menyerah untuk cinta saat ini. Masih ingin berjalan disisimu walau sesungguhnya aku tak yakin akan berapa lama itu akan bertahan. Aku tahu, akan ada mereka yang akan mendorongku untuk pergi. Mereka akan memaksaku untuk tak lagi berada dalam hidupmu. Aku percaya mereka akan melakukan banyak kejahatan padaku.

Sejujurnya aku takut. Aku takut kita tidak akan bisa berbuat apapun selain diam dan menurut. Aku ingin berontak, tapi sepertinya kamu tidak bisa melakukannya bersamaku. Apalah artinya pemberontakan di satu pihak sementara pihak yang lain tak melakukan apa-apa?
Keragu-raguan terus menggelayuti diriku. Setiap detik.

Setiap aku bernafas, rasanya aku ingin menangis. Mengadu pada Tuhan di setiap sujudku, kenapa semua ini bisa terjadi? Tuhan, apa yang bisa aku lakukan?Aku hanya tak ingin menyerah. Itu saja, Tuhan.Salahkan aku percaya pada satu jodoh yang engkau berikan padaku? Salahkah aku menebak-nebaknya? Salahkah aku, Tuhan?

Aku hanya ingin bertahan dan terus mencintaimu. Sesederhana itu saja.
Salahkah?


0 Note:

Posting Komentar

 

Novela Dinar Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos