Di tengah linangan air mata yang terus mengalir perlahan membasahi pipi yang berlemak ini, aku ingin mengungkapkan banyak hal yang tak pernah ku tahu bagaimana akhirnya. Aku tak pernah bisa tahu cara untuk menyelesaikan semua sebab ini yang selalu membuatku menghasilkan air mata berlebihan. Hal-hal yang menyiksa diriku sendiri dan banyak hal bodoh yang harusnya tak di lakukan oleh orang yang normal pikirannya. Mungkin memang aku sudah gila.
Gadis bodoh yang sangat mudah ditaklukan oleh cinta. Aku. Gadis gila yang tak pernah berhasil membuat dirinya menghindari jatuh ke lubang yang sama. Iya Aku. Gadis yang tak pernah bisa melakukan apapun selain menangis dan menyesali dirinya yang terlalu bodoh dan gila. Benar sekali, tak lain dan tak bukan adalah aku.
Sejak awal perkenalan kita yang semuanya seakan tak sengaja. Begitu apik Tuhan gariskan takdir itu untuk kita. Semua berjalan bagaikan alur cerita sinetron remaja yang mengambil tema cinta-cintaan ABG. Bahkan setiap kali aku mengulang kembali momen-momen itu, rasanya aku masih saja tak percaya itu dapat terjadi padaku, Aku masih tak bisa menerima garis yang sudah kini ku ikuti. Semuanya bagaikan sandiwara.
Tuan yang baik hatinya.
Tuan yang berhasil mengambil hatiku yang bahkan masih dalam bentuk serpihan. Tuan yang tak harus menunggu hatiku kembali utuh. Tuan yang berjanji akan membantuku mengumpulkan serpihan-serpihan hati yang tersisa hingga selesai menjadi hati yang utuh seperti semula.
Tuan yang terlalu baik bagi gadis bodoh dan gila yang tak tahu diri ini. Aku terlalu egois untuk memulai membicarakan cinta kita. Sekedar untuk memperjuangkannya, Aku selalu memilih untuk diam dan menunggu Tuan Muda itu menjemputku terlebih dulu. Aku gadis egois yang jahat. Aku tak patut mendapatkan kebaikan Tuan itu.
Awalnya semuanya berjalan baik-baik saja. Pola itu terus ku ulangi. Bodoh sekali.
Tapi seharusnya aku tahu, ada kalanya pola itu akan sampai pada klimaks dan akan menemui titik jenuhnya. Dan jika sudah menemukan titik akhirnya maka pola itu tak akan lagi berarti. Semua itu hanya akan menjadi pola yang sia-sia. Dan harusnya aku menyadari itu sebelum semuanya terjadi.
Wahai Tuan yang baik hatinya.
Kenapa seakan kini engkau menjauh dari bayanganku? Kenapa Tuan tak lagi datang menjadi mimpi baik dalam mimpi burukku. Akankah engkau juga akan ikut menjadi mimpi buruk dari segala mimpi buruk yang pernah ku punya?
Wahai Tuan yang baik hatinya.
Kemana diri yang dulu begitu aku paksa untuk menerima rasa egoisku? Kemana dia pergi? Aku tak suka jika semuanya begini. Memang aku egois, aku ingin menjadi pemenang dari permainan ini. Aku ingin Tuan mengikuti bagaimana permainan ini awalnya dimulai. Jangan membuatmu malah berhenti ditengah permainan dan berniat untuk pergi mencari permainan yang lain.
Tuan yang sangat baik hati dan jiwanya.
Katakan padaku apa yang salah dari sisi egoisku? Katakan apapun yang bisa kau katakan. Jangan hanya diam seperti ini. Aku bukan mereka yang mudah menebak isi hati orang lain dan menjadi bahagia ketika akhirnya tahu apa yang terjadi. Aku ingin semua penyesalan itu keluar dari anggota badanmu yang bernama mulut. Aku tak suka membaca gerak gerik atau bahkan menjadi peramal yang seolah-olah tahu segalanya padahal semuanya itu tak sepenuhnya akan menjadi benar.
Tuan yang sangat baik.
Jika engkau ingin mengatakan aku tak patut untuk di cintai karena aku bodoh, gila, egois, jahat dan banyak lagi, cukup katakan padaku dengan kemauanmu. Jangan membuatku menunggu dan mengira-ngira apa yang terjadi. Aku membencinya.
Tuan ....
Hingga detik ini aku masih ingin kita kembali seperti dulu ketika kita memulai cerita ini. Saling tersenyum bahagia dan hidup tanpa beban. Aku ingin duri-duri yang menancap pada jalan cerita kita ini segera kita bersihkan. Bukan hanya aku saja. Bukan hanya kamu saja. Kita akan membersihkannya bersama-sama. Maukah?
Tuan, tolong jawab aku. Tolong bilang iya. Jangan sebaliknya. Entah jika sampai Tuan memberikan jawaban yang sebaliknya. Aku tak pernah ingin membayangkannya. Aku hanya ingin Tuan meng"iya"kan semua ini. Menerima segalanya. Mempercayakanku atas kepercayaanmu.
Maafkan waktu yang sudah ternoda dengan banyak noda yang sia-sia ini, Wahai Tuan yang selalu ingin ku dekap punggungnya selama yang ku bisa.

0 Note:
Posting Komentar