Ketika serbuan air turun dari langit membasahi jendelaku yang kesepian, aku hanya berdiri termenung menatapnya tak bisa membayangkan apapun. Kemudian kakiku memaksa untuk mendekat hingga akhirnya aku kini sudah duduk di samping jendela menenaminya yang kedinginan. Tak ada yang istimewa dari proses air itu turun lalu membasahi jendelaku dan tertinggal beberapa titik di sana. Ia tak bergerak karena ia hanya bisa menunggu matahari muncul kan membuatnya menguap ke udara.
Di luar sana basah, dingin dan sepi ....
Sama seperti apa yang sedang ku rasakan jauh-jauh menjatuhkan diri ke dalam benakku sendiri. Yang bisa ku lakukan hanya diam disini ketika hujan turun membasahi ibu pertiwi. Tak bisa kemana-mana selain berkutit dalam bangunan bertudung untuk melindungiku dari basah. Seperti hal nya apa yang sedang ku rasakan sejujurnya bahwa hidupku sudah terlalu sempit untuk di tinggali lebih lama. Aku sudah waktunya mencari yang lebih luas agar hidupku yang baru lebih menyenangkan untuk di jalani.
Apa yang kau lihat selain kesedihan?
Aku tidak sedih, aku hanya bingung.
Mengapa hidupku tak bisa sesederhana mereka, dan mengapa takdirku tak seberuntung mereka?
Hujan tak pernah menolak dimana ia akan di turunkan. Matahari tak pernah protes jika suatu ketika awan menutupi sinarnya ke bumi. Atau mungkin bintang yang tak berkeberatan jika ternyata malam itu mendung mengepul dan bersiap hujan yang itu berarti bintang di malam hari tak bisa melaksanakan tugasnya dengan sempurna. Tapi apa? Mereka tak pernah marah. Lalu kenapa aku tak bisa seperti mereka?
Yaa ... karena aku memang bukan mereka. Aku manusia. Manusia yang tak pernah puas dengan apa yang sudah ada. Aku serakah. Aku egois. Tak pernah bisa bersyukur.

