Senin, 07 Juli 2014

Tempat Terindah Sepanjang Masa. Tempat yang Indah untuk Jatuh Cinta. Jogja ...

Diposting oleh Novela Dinar Puspitasari di 09.52 0 Note

Apa hal pertama yang terbesit ketika mendengar Malioboro Street?
Apa kesan pertama yang terpikirkan ketika melihat monumen Tugu?
Apa yang mengingatkan jika membicarakan tentang Parangtritis Beach?

Jogja ... Yaa dialah pokok dari segala masalah ini.

Kota paling istimewa di Indonesia. Entah apa yang membuatnya Istimewa dari kota-kota lain. Tapi harus ku akui Jogja membosankan jika kalian sudah tau seluk beluknya. Kota yang terkepung oleh jalanan melingkar bernama Ring Road, pinggiran kotanya bahkan masih tergolong Kota tua dengan bongkahan bongkahan bangunan tuanya. Terasa klenik? Iyaa.
Kemacetan dimana-mana sehingga kita harus memutar otak mencari jalan alternatif agar tak terjebak macet. Hawanya juga cukup untuk membakar kita hidup hidup jika kita memaksa untuk nekat. Setiap tahun banyak orang yang datang dan mengaku sebagai perantau. Mereka datang dengan tujuannya masing-masing. Tapi jelas, pemikiran mereka sama. Kenapa harus Jogja? Karena Jogja Istimewa.

Aku sudah menetap di Jogja selama setahun sebagai mereka para perantau. Melanjutkan studi S1 ku di sebuah kampus di pinggiran kota. UGM? Bukan. UGM memang termasuk kampus pinggiran kota, tapi UGM belum saatnya menerimaku sebagai bagian dari keluarga besarnya. Apa mau di kata jika memang takdir dan usaha berbanding terbalik.

Sebagai mahasiswi baru yang masih dengan gayanya sok sok kece karena sudah keluar dari lingkaran berseragam, menelusuri Jogja itu adalah kewajiban yang sepadan dengan masuk kuliah setiap hari. Tak ada waktu yang terbuang sia-sia untuk sekedar berkeliling Jogja atau duduk duduk cantik di kafe-kafe yang hampir di setiap jalan pasti ada. Mulai dari kedai susu yang terkenal di dekat UGM " Kali Milk " dengan harganya yang cukup menjulang sampai kedai-kedai susu eceran yang harganya merakyat. Kafe 24 jam yang cocok untuk begadang seperti " Semesta " atau tetangganya, "  Legend " di daerah Kotabaru. Dan masih banyak tempat yang begitu populer di Jogja yang masuk daftar wajib untuk di kunjungi baik dengan kantong tebal atau tipis.
Tapi setahun penuh disini sudah cukup menyenangkan. Aku bertemu orang-orang baru dan yang paling menyenangkannya lagi aku bisa berkenalan dengan mereka-mereka yang datang dari luar jawa dengan membawa budaya mereka masing-masing. Mereka datang dari Sabang sampai Merauke tanpa terkecuali. Di sini seperti miniatur Indonesia. Mereka dengan budayanya tentu membuatku geli untuk sekedar kepo mempelajari bahasa atau bahkan berselisih paham menyebut sebuah istilah yang sama namun berbeda pengertian. Ini mengasyikkan. Aku suka. Mungkin ini pula yang membuat Jogja menjadi terasa istimewa karena Jogja itu berbeda.
Dan di sini pula aku menemukan cintaku. Terlalu dini untuk membahasnya terlalu jauh karena kami belum menginjak pada jenjang lebih serius. Tapi rasanya aku bersyukur bisa menemukannya dari milyaran manusia di Jogja ini. Dulu, dulu sekali aku pernah berkata pada teman-teman sekolahku aku akan menemukan cintaku di Jogja. Kota impianku sejak kecil. Walaupun aku sudah pernah menemukan ' orang jogja ' sebagai sosok yang ku pikir bisa mendampingiku dan ternyata aku salah memilihnya. Sempat takut memulai cerita kembali? Iya, tentu. Ada rasa ketakutan dalam diriku mengulangi kesalahan yang sama. Rasa sakit itu terlalu menyakitkan hingga sampai detik sebelum aku menemukannya, perih itu masih saja menyiksa. Tapi kemudian dia datang dengan caranya untuk mendekatiku. Membuatku merasa nyaman terlebih dahulu dengan gayanya. Lalu membuat sebuah kepercayaan yang pada akhirnya membuatku berani memutuskan untuk mencoba memulai kisah baru dengannya. Aku menerimanya apa adanya. Apa adanya yang dia punya dan kekurangannya. Dia mampu bersabar menghadapiku. Menjadi air ketika aku menjadi api. Itulah mengapa saat ini aku berusaha untuk terus bersamanya. Aku tak mau kehilangan sosok yang sempurna -bagiku- demi sosok yang entah kelak seperti apa lagi. Yang belum tentu bisa mengerti aku sejauh yang dia bisa lakukan saat ini. Dia jarang marah, bahkan tidak pernah. Aku nyaman ketika berdiri di sisinya. Nyaman sekali.

Ini alasan mengapa Jogja begitu istimewa bagiku. Akhirnya aku menemukannya. Itulah kenapa Jogja selalu membuatku rindu ketika ditinggalkan. Entah rasa apa yang bergejolak didada ini hingga ingin rasanya cepat-cepat kembali menginjak tanah Jogja.
Tempat terindah sepanjang masa. Tempat yang indah untuk Jatuh Cinta.

Jogjaa, I'm in Love !

Minggu, 06 Juli 2014

...

Diposting oleh Novela Dinar Puspitasari di 09.14 0 Note


- LALU ADIGEDE MAOLANA GAFAR -

Thanks you already found me so far :)

Terima Kasih

Diposting oleh Novela Dinar Puspitasari di 09.04 0 Note
percayakah dirimu pada keindahan cinta?
yang membuat jiwa ini merona jingga ...
percayakah dirimu ada kekuatan cinta?
yang memberi kita waktu untuk bersama lagi ...

karena cinta ... ku ada disini ...

cintai dirimu walau sebentar saja ...

terbanglah bersama diriku menuju langit biru ...

teriakkan kata cintamu sedahsyat halilintar ...
melayanglah bersama diriku melintasi samudra ...
tarikanlah tarian cintamu seindah gelombang ...

- Cinta, Acha & Irwansyah ( OST Ada Cinta )


Tuhan ...
Bolehkah hambamu yang lemah ini bertanya pada engkau tentang sesuatu hal?
Jika di tanya tentang apa, aku pun tidak mengerti dengan jelas apa yang akan aku tanyakan.
Aku hanya bisa mengatakannya,
" Tuhan, kenapa ada namanya cinta ? "
Tak pernah terbesit sejengkal pun aku ingin menanyakannya. Aku hanya hamba yang lemah sama seperti hamba-hamba Tuhan yang lain. Tidak ada yang spesial. Aku tidak punya apa-apa. Hanya saja sebutan cinta itu memancing diriku untuk berpikir dan bertanya-tanya. Cinta itu apa?
Ketika diri yang lemah ini menggigil kedinginan dan hampir membeku layaknya es batu, rengkuhan lembut mengelilingi sekujur tubuhku. Perlahan-lahan rasa dingin itu hilang di gantikan oleh rasa hangat yang nyaman. Biasanya di sebut dengan pelukan. Ya, mereka bilang seperti itu.
Aku iseng meletakkan hal yang bernama tangan dengan 5 jarinya sebelah kanan ke hal yang bernama dada di sebelah kiri. Rasa itu. Kenapa?
Duk Duk Duk ...
Kenapa ada yang sedang mengetuk dada kiriku?
Tuhan, itu kah engkau?
Tapi nyatanya bukan. Tuhan, tidak menjawab sapaanku. Tuhan, tidak pernah diam ketika ku panggil asmanya. Tuhan selalu menjawab panggilanku. Walaupun hanya aku yang bisa merasakannya ... dalam hati.
Tuhan, ini apa?
Kenapa dada kiriku diketuk makin kencang ketika dua bola hal bernama mata itu menyorot lembut pada mataku. Tatapannya yang sayu seakan dapat meredakan kegugupanku yang tak terkontrol. Menjurus lurus tiada ampun.

Lalu ketika ia mulai menarik hal bernama bibir itu ke samping kanan dan kiri sehingga membentuk senyuman -begitu mereka bilang- menarik pipinya semakin melebar dan menyisakan sebuah jurang manis di pipi kirinya. Lesung pipi.
Dia. Yaa dia. Dia memelukku lembut dengan caranya. Diriku yang meringkuk kedinginan awalnya, lambat laun mulai menerima keberadaan dia yang begitu dekat dengan tubuhku. Nyaman sekali. Sangat nyaman, Tuhan.
Satu kecupan mendarat di ubun-ubun kepalaku. Dengan lembut juga. Aku merasa nyaman juga untuk kedua kalinya. Tuhan, sebenarnya ini apa? Kenapa begini? Apakah Cinta itu seperti ini?
Cintakah yang membuat segalanya selalu menjadi lebih baik dari sebelumnya?
Cintakah yang membuat setiap orang merasa nyaman?
Cintakah namanya?
Tuhan, jawab aku. 
Apa yang harus aku lakukan? Jika memang ini cinta, lalu aku harus bagaimana?
Cinta harus seperti ini kah?
Tuhan, tolong jawab pertanyaanku. Ku mohon.
Jikalau memang ini bernama cinta, terima kasih Tuhan Engkau telah memperkenalkannya padaku. Aku nyaman. Aku bahagia.

Terima kasih ... Tuhan
Terima kasih ... Cinta ...

Kalimat Terakhirmu

Diposting oleh Novela Dinar Puspitasari di 03.14 0 Note

 



Kamu berdiri diantara kehidupan. Antara kejamnya dunia dan hangatnya kebersamaan. Rembulan setia menemanimu menangis dan mendengarkan hatimu meronta. Kulihat di malam yang dingin ini kamu mencoba menahan diri dari kenyataan. Namun yang hanya dapat kamu rasakan adalah penyesalan. Kamu renungkan apa yang terjadi. Terdiam, membiarkan suara desah malam memperhatikanmu. Sendu dan terluka terlihat dari pancaran wajah indahmu. Serbuan air mata yang menunggu untuk menetes, menyatu dengan dinginnya malam ini. Selalu kuperhatikan tingkah dan kemauanmu.


Seorang lelaki tinggi dengan lembut mendekatimu dan mengajakmu masuk kedunia yang lebih nyaman dan hangat. Kamu hanya tersenyum dan berkata “ Iya, segera”

Lelaki itu membalas senyumanmu, membelai rambut panjangmu yang dulu begitu ku favoritkan lalu mengecup keningmu dengan penuh kasih sayang. Lalu lelaki itu pun masuk dan menunggumu disana. Lelaki yang memang sudah di gariskan oleh takdir untuk berdiri di sampingmu. Menemanimu menjadi pasangan hidup. Bukan aku.

Kamu kembali menatap rembulan yang dulu pernah kita yakini bersama. Jika ada rembulan disana maka aku sedang berada disampingmu. Kamu hanya tersenyum dan membuka liontin kerang yang harusnya kuberikan sendiri pada hari ini ulang tahunmu.

Angin malam berhembus kencang menerpa tubuh lemahmu. Aku ingin memeluk dan menghangatkanmu. Namun, disini aku hanya dapat menyesali diri. Kamu mulai bercerita tentang kita kepada dunia malam. Tentang kebersamaan dan keceriaan kita dulu. Kadang kamu tertawa, kadang kamu menangis dan kadang kamu kecewa.

Namun disini aku sangat bersyukur. Kamu diberi kesempatan lebih,walaupun kita harus terpisah oleh waktu. Kejadian lalu yang membuat kamu dan aku tak dapat bersatu kembali. Kejadian dimana malaikat menjemputku pulang. Kita sama-sama tahu bahwa apa yang kita lakukan tak seharusnya terjadi. Kini, aku hanya dapat melihatmu dari jauh hati. Di malam Ulang Tahunmu yang paling kau dambakan ini aku telah menepati janjiku padamu. Walaupun hanya jiwaku saja yang menemanimu. Aku akan selalu bersamamu walaupun ragaku telah mati. Aku juga percaya, malam ini disaat rembulan dan dunia malam hidup kau akan selalu kulihat bahagia. Aku ingin katakan,   

Selamat Ulang Tahun..........

Aku tahu kalimat itu yang harusnya kuucapkan padamu malam ini.Walaupun hanya sebuah bisikan sayang, tapi aku tahu kamu mendengarnya..........

Kamu tersenyum dan air mata jatuh menetes dipipi merahmu. Kemudian kau ucapakan perlahan. Dan aku tahu itu kamu ucapkan untukku,                                             

Terima Kasih................Wanitaku...


Kamis, 03 Juli 2014

Indah Cintaku :)

Diposting oleh Novela Dinar Puspitasari di 17.19 0 Note

ku ingin kau tahu, ku ingin kau selalu dekat denganmu setiap hariku ...
sudahkah kau yakin untuk mencintaiku? ku ingin hanya satu tuk selamanya


ku tak melihat dari sisi sempunamu, tak peduli kelemahanmu
yang ada aku jatuh cinta karena hatimu

cintaku tak pernah memandang siapa kamu, tak pernah menginginkan kamu lebih dari apa adanya dirimu ... selalu
cintaku terasa sempurna karena hatimu, selalu menerima kekuranganku
sungguh indah cintaku ...


sudahkah kau yakin untuk mencintaiku? ku ingin hanya satu tuk selamanya
ku tak melihat dari sisi sempurnamu, tak peduli kelemahanmu
yang ada aku jatuh cinta karena hatimu

cintaku tak pernah memandang siapa kamu, tak pernah menginginkan kamu lebih dari apa adanya dirimu selalu
cintaku terasa sempurna karena hatimu, selalu menerima kekuranganku
sungguh indah cintaku, cintaku ...


cintaku tak pernah memandang siapa kamu, tak pernah menginginkan kamu lebih dari apa adanya dirimu selalu
cintaku terasa sempurna karena hatimu, selalu menerima kekuranganku
sungguh indah cintaku, sungguh indah cintaku ...
 indah cintaku :)


 

Novela Dinar Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos