Minggu, 06 Juli 2014

Terima Kasih

Diposting oleh Novela Dinar Puspitasari di 09.04
percayakah dirimu pada keindahan cinta?
yang membuat jiwa ini merona jingga ...
percayakah dirimu ada kekuatan cinta?
yang memberi kita waktu untuk bersama lagi ...

karena cinta ... ku ada disini ...

cintai dirimu walau sebentar saja ...

terbanglah bersama diriku menuju langit biru ...

teriakkan kata cintamu sedahsyat halilintar ...
melayanglah bersama diriku melintasi samudra ...
tarikanlah tarian cintamu seindah gelombang ...

- Cinta, Acha & Irwansyah ( OST Ada Cinta )


Tuhan ...
Bolehkah hambamu yang lemah ini bertanya pada engkau tentang sesuatu hal?
Jika di tanya tentang apa, aku pun tidak mengerti dengan jelas apa yang akan aku tanyakan.
Aku hanya bisa mengatakannya,
" Tuhan, kenapa ada namanya cinta ? "
Tak pernah terbesit sejengkal pun aku ingin menanyakannya. Aku hanya hamba yang lemah sama seperti hamba-hamba Tuhan yang lain. Tidak ada yang spesial. Aku tidak punya apa-apa. Hanya saja sebutan cinta itu memancing diriku untuk berpikir dan bertanya-tanya. Cinta itu apa?
Ketika diri yang lemah ini menggigil kedinginan dan hampir membeku layaknya es batu, rengkuhan lembut mengelilingi sekujur tubuhku. Perlahan-lahan rasa dingin itu hilang di gantikan oleh rasa hangat yang nyaman. Biasanya di sebut dengan pelukan. Ya, mereka bilang seperti itu.
Aku iseng meletakkan hal yang bernama tangan dengan 5 jarinya sebelah kanan ke hal yang bernama dada di sebelah kiri. Rasa itu. Kenapa?
Duk Duk Duk ...
Kenapa ada yang sedang mengetuk dada kiriku?
Tuhan, itu kah engkau?
Tapi nyatanya bukan. Tuhan, tidak menjawab sapaanku. Tuhan, tidak pernah diam ketika ku panggil asmanya. Tuhan selalu menjawab panggilanku. Walaupun hanya aku yang bisa merasakannya ... dalam hati.
Tuhan, ini apa?
Kenapa dada kiriku diketuk makin kencang ketika dua bola hal bernama mata itu menyorot lembut pada mataku. Tatapannya yang sayu seakan dapat meredakan kegugupanku yang tak terkontrol. Menjurus lurus tiada ampun.

Lalu ketika ia mulai menarik hal bernama bibir itu ke samping kanan dan kiri sehingga membentuk senyuman -begitu mereka bilang- menarik pipinya semakin melebar dan menyisakan sebuah jurang manis di pipi kirinya. Lesung pipi.
Dia. Yaa dia. Dia memelukku lembut dengan caranya. Diriku yang meringkuk kedinginan awalnya, lambat laun mulai menerima keberadaan dia yang begitu dekat dengan tubuhku. Nyaman sekali. Sangat nyaman, Tuhan.
Satu kecupan mendarat di ubun-ubun kepalaku. Dengan lembut juga. Aku merasa nyaman juga untuk kedua kalinya. Tuhan, sebenarnya ini apa? Kenapa begini? Apakah Cinta itu seperti ini?
Cintakah yang membuat segalanya selalu menjadi lebih baik dari sebelumnya?
Cintakah yang membuat setiap orang merasa nyaman?
Cintakah namanya?
Tuhan, jawab aku. 
Apa yang harus aku lakukan? Jika memang ini cinta, lalu aku harus bagaimana?
Cinta harus seperti ini kah?
Tuhan, tolong jawab pertanyaanku. Ku mohon.
Jikalau memang ini bernama cinta, terima kasih Tuhan Engkau telah memperkenalkannya padaku. Aku nyaman. Aku bahagia.

Terima kasih ... Tuhan
Terima kasih ... Cinta ...

0 Note:

Posting Komentar

 

Novela Dinar Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos