Minggu, 06 Juli 2014

Kalimat Terakhirmu

Diposting oleh Novela Dinar Puspitasari di 03.14

 



Kamu berdiri diantara kehidupan. Antara kejamnya dunia dan hangatnya kebersamaan. Rembulan setia menemanimu menangis dan mendengarkan hatimu meronta. Kulihat di malam yang dingin ini kamu mencoba menahan diri dari kenyataan. Namun yang hanya dapat kamu rasakan adalah penyesalan. Kamu renungkan apa yang terjadi. Terdiam, membiarkan suara desah malam memperhatikanmu. Sendu dan terluka terlihat dari pancaran wajah indahmu. Serbuan air mata yang menunggu untuk menetes, menyatu dengan dinginnya malam ini. Selalu kuperhatikan tingkah dan kemauanmu.


Seorang lelaki tinggi dengan lembut mendekatimu dan mengajakmu masuk kedunia yang lebih nyaman dan hangat. Kamu hanya tersenyum dan berkata “ Iya, segera”

Lelaki itu membalas senyumanmu, membelai rambut panjangmu yang dulu begitu ku favoritkan lalu mengecup keningmu dengan penuh kasih sayang. Lalu lelaki itu pun masuk dan menunggumu disana. Lelaki yang memang sudah di gariskan oleh takdir untuk berdiri di sampingmu. Menemanimu menjadi pasangan hidup. Bukan aku.

Kamu kembali menatap rembulan yang dulu pernah kita yakini bersama. Jika ada rembulan disana maka aku sedang berada disampingmu. Kamu hanya tersenyum dan membuka liontin kerang yang harusnya kuberikan sendiri pada hari ini ulang tahunmu.

Angin malam berhembus kencang menerpa tubuh lemahmu. Aku ingin memeluk dan menghangatkanmu. Namun, disini aku hanya dapat menyesali diri. Kamu mulai bercerita tentang kita kepada dunia malam. Tentang kebersamaan dan keceriaan kita dulu. Kadang kamu tertawa, kadang kamu menangis dan kadang kamu kecewa.

Namun disini aku sangat bersyukur. Kamu diberi kesempatan lebih,walaupun kita harus terpisah oleh waktu. Kejadian lalu yang membuat kamu dan aku tak dapat bersatu kembali. Kejadian dimana malaikat menjemputku pulang. Kita sama-sama tahu bahwa apa yang kita lakukan tak seharusnya terjadi. Kini, aku hanya dapat melihatmu dari jauh hati. Di malam Ulang Tahunmu yang paling kau dambakan ini aku telah menepati janjiku padamu. Walaupun hanya jiwaku saja yang menemanimu. Aku akan selalu bersamamu walaupun ragaku telah mati. Aku juga percaya, malam ini disaat rembulan dan dunia malam hidup kau akan selalu kulihat bahagia. Aku ingin katakan,   

Selamat Ulang Tahun..........

Aku tahu kalimat itu yang harusnya kuucapkan padamu malam ini.Walaupun hanya sebuah bisikan sayang, tapi aku tahu kamu mendengarnya..........

Kamu tersenyum dan air mata jatuh menetes dipipi merahmu. Kemudian kau ucapakan perlahan. Dan aku tahu itu kamu ucapkan untukku,                                             

Terima Kasih................Wanitaku...


0 Note:

Posting Komentar

 

Novela Dinar Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos